UMAT KATOLIK YANG BERBELA RASA DAN RELA BERBAGI - Poster APP II - KAM

Tujuan utama bagi kamu, yang bergabung dalam hidup bersama adalah untuk hidup secara harmonis dalam rumahmu, seharti dan sejiwa tertuju pada Allah."

(Regula Santo Agustinus Artikel 3 )

Gambar seorang ibu berkalungkan rosasio (dengan wajah prihatin) memberi sebungkus makanan kepada seorang pengemis yang berada di trotoar dengan latarbelakang sebuah kota (menyentuh tangan si pengemis). Terlihat juga sejumlah orang melewati pengemis tersebut tampa berbuat apa-apa.

Dalam poster nomor 2 tampak seorang ibu memakai Rosario memberi sebungkus makanan kepada pengemis dengan menyentuh tangannya. Perbuatan itu menunjukkan sikap tulus, peduli, solider, empati, rela berbagi, berbelas kasih kepada orang lain. Sikap dan tindakan berbela rasa dan rela berbagi harus tampak dalam semua segi kehidupan, baik di tengah keluarga, dalam hidup sosial masyarakat, dalam hidup menggereja.
Dari sharing yang diungkapkan tadi, hubungan marga, keluarga, gereja, lingkungan, profesi, daerah, dan sebagainnya masih sering mendasari seseorang melakukan tindakan berbela rasa dan berbagi. Sebagai umat beriman, kita tidak bisa menutup mata terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang terjadi di sekitar kita. Kita dipanggil untuk berbela rasa dan rela berbagi bagi mereka yang membutuhkan dalam segala situasinnya

Bacaan Kitab Suci: Lukas 10:25-37

Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: "Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" 26 Jawab Yesus kepadanya: "Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?" 27 Jawab orang itu: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri." 28 Kata Yesus kepadanya: "Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup." 29 Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: "Dan siapakah sesamaku manusia?" 30 Jawab Yesus: "Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan
ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?" 37 Jawab orang itu: "Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Kata Yesus kepadanya: "Pergilah, dan perbuatlah demikian!"

 

Pembahasan

Teks Kitab Suci Lukas 10:25-37, yang berisi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, menegaskan pentingnya kasih yang melampaui batas-batas sosial, agama, dan budaya. Ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang cara memperoleh hidup yang kekal, Yesus mengarahkan diskusi kepada inti hukum Taurat: mengasihi Allah dengan segenap hati dan mengasihi sesama seperti diri sendiri.
Perumpamaan ini menekankan bahwa kasih kepada sesama tidak terbatas pada kelompok atau golongan tertentu. Yesus menggunakan tokoh orang Samaria yang pada masa itu dianggap musuh oleh orang Yahudi untuk menunjukkan bahwa sesama kita adalah siapa saja yang membutuhkan pertolongan, tanpa memandang latar belakang mereka.

Sikap imam dan orang Lewi yang melewati orang yang terluka di jalan tanpa memberikan bantuan mencerminkan ketidakpekaan dan kekakuan hati, meskipun mereka merupakan tokoh-tokoh agama. Sebaliknya, orang Samaria yang dianggap asing justru menunjukkan belas kasih yang sejati. Ia tidak hanya memberikan bantuan sesaat, tetapi juga berkomitmen untuk memastikan pemulihan orang yang terluka.
Yesus menutup perumpamaan ini dengan panggilan yang tegas: "Pergilah, dan perbuatlah demikian." Ini adalah panggilan bagi setiap kita untuk tidak hanya merenungkan hukum kasih, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Perumpamaan ini mengajarkan bahwa kasih sejati adalah kasih yang aktif, yang siap menolong siapa pun tanpa pamrih, bahkan jika mereka berbeda atau dianggap asing. Dalam menjalankan kasih ini, kita ikut serta dalam mewujudkan Kerajaan Allah di dunia.